Posted by: ramadhanisa on: January 25, 2012
23 Januari 2012
Pagi yang masih sama. Melangkah perlahan sehabis makhluk tak hidup bernapas. Dari bangunan hijau yang sejuk di kala terang itu aku kembali ke ruangan penuh kursi dan meja tertata. Di sana sudah menanti satu dua tiga gadis berjilbab yang sudah tampak segar tapi masih galau. Hehe. Mikirin acara hari ini pasti. Sementara beberapa yang lain masih nongkrong di lantai dua bangunan hijau.
Disambut rencana apa-yang-akan-kita-lakukan. Mencari-cari video motivasi di Youtube, berakhir di harddisk dan ternyata masih tersimpan cantik di sana. Kado cinta dari sahabat lama, kisah mengagumkan di daerah Bandung.
Tibalah saatnya. Karena tidak ada ikhwan alumni yang tersisa akhirnya seniorku yang super militan itulah yang maju ke depan. Dengan wajahnya yang selalu sumringah menyambut anak-anak baru gede yang luar biasa itu. Lalu kumainkan sebuah video (yang tadi dicariin) yang kami harap bisa membuka mata hati anak-anak itu.
Sebuah SMP negeri di Bandung. Meski status sekolah negeri, tapi agaknya sekolah ini tak mau ketinggalan untuk membina keislaman siswanya. Setiap pagi bukan sekedar apel pagi di sekolah negeri lain, tetapi membaca shalawat nabi bersama! Sampai ada siswi yang tampak meneteskan mata. Padahal banyak dari mereka yang tidak berjilbab pada waktu itu.
Keheningan itu kemudian berubah menjadi hiruk pikuk dalam gedung sekolah yang tidak begitu mewah tapi anggun dengan keistiqomahannya itu. Semangat belajar dan mengajar dari siswa dan guru. Di sela jam-jam pelajaran itu, kemudian berganti lagi dengan suasana asyik mencari air wudhu untuk dhuha bersama satu sekolah! Bayangkan! Ini sekolah negeri.
Siang hari pun begitu, siswa-siswi itu mencari-cari kesejukan air wudhu bahkan hingga meminta air dari warga. Kemudian mereka sholat dzuhur berjamaah. Tak tanggung-tanggung, bahkan sajadah digelar di lorong-lorong gedung sekolah. Lalu, dengan dipimpin seorang siswa mereka berdoa bersama, dalam keheningan, dengan rintikan air mata, serta dengan lugu dan polosnya siwa SMP. Subhanallah!
Seniorku mengembalikan lagi pada anak-anak hebat di hadapan kami. Apa mimpi kalian untuk sekolah tercinta ini?
Kemudian muncul lah mimpi besar dari mulut mereka meski berbalut tawa dan canda muda mereka. Mimpi besar. Harapan nyata. Sebuah kemenangan!
Dari semua mimpi itu, aku melihat mimpi yang mungkin akan ditertawakan masyarakat dunia masa kini secara umum: mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau. Aku tertegun, lalu tersenyum. Semoga dari tempat inilah lahir Shalahudin Al Ayyubi yang lain, Muhammad Al Fatih yang menjadi pembebas bagi kejahiliyahan modern, pemimpin layaknya Rasulullah, minimal seperti Umar bin Khattab, serta pahlawan besar lain yang bahkan tak pernah terbayangkan di benak siapa pun. Aamiin.
Adakah kau lupa
Kita pernah berjaya
Adakah kau lupa
Kita pernah berkuasa
Memayungi dua pertiga dunia
Menrentas benua melayar samudera
Keimanan juga ketaqwaan
Rahsia mereka capai kejayaan
… (Alarm Me – Adakah kau lupa)
Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini adalah kenyataan hari esok” (Hasan Al-Banna)
Posted by: ramadhanisa on: January 25, 2012
23 Januari 2012
Kuhirup udara pagi ini. Ah bukan nding, malam ke-3. Udara yang jauh lebih segar daripada sejuknya pagi. Melangkah ke bangunan hijau di pojok kompleks sekolah. Keindahan yang sungguh sayang dilewatkan.
Ya, malam ini kembali FSAK diminta teman-teman Kharisma untuk mendampingi mabit mereka. Di luar hal teknis yang jadi kendala, aku tetap bersyukur selama 2 hari ini diizinkan membersamai mereka.
Kalo boleh aku bilang, mereka bisa saja menjadi orang luar biasa kelak. Tentunya, tetap dengan keteguhan iman, memenuhi syari’at Islam, dan potensi mereka masing-masing.
Kebetulan FSAK diminta mengisi 3 sesi dalam seminar dan mabit bertema “kepemimpinan” malam itu. Pertama, dibantu oleh Besar Anggara Palgunadi (2011) dengan menampilkan video tetang Shalahudin Al Ayyubi yang mengisahkan seorang panglima perang yang luar biasa hebat yang telah berhasil menaklukan pasukan musuh pada Perang Salib. Kemudian dilanjutkan trainer (trainer beneran bukan dari FSAK hehe) yaitu Pak Arif Jadmiko. Seminar berjalan seru hingga ashar kemudian masih dilanjut lagi setelah istirahat sholat ashar.
Malam harinya, setelah maghrib, aku, Fal, dan Mbak Sa’a yang masih doyan nongkrong di masjid dengan aktivitas masing-masing sambil menunggu hujan reda, tiba-tiba dengan so sweetnya adek-adek KHR 26 (Kharisma 26) mengirim sms untuk makan bareng di ruang Multimedia. Hihihi, akhirnya karena saking so sweetnya, kami bertiga langsung capcus ke ruang MM.
Hoo, ternyata makannya prasmanan gitu. Asik banget bisa merasakan kebersamaan dengan anak-anak ini. Udah gokil, geje, tapi tetep istiqomah buat dakwah. Subhanallah, mereka keren.
Setelah itu kita sholat isya berjamaah di masjid Ash-Shidiq (bener hehe). Kemudian inilah yang sudah dari kemarin dipersiakan oleh teman-teman FSAK, bedah film “Red Cliff”. Sebuah film dari China yang menceritakan tentang Pertempuran Chibi di akhir Dinasti Han. Di film ini tampak kepemimpinan yang luar biasa dari beberapa karakter utamanya. Bahkan kepemimpinan dalam film ini juga dituliskan oleh Salim A. Fillah dalam bukunya yang ke-7, “Dalam Dekapan Ukhuwah”.
Singkat cerita, bedah film yang dibawakan oleh Mas Imam Santoso ini menyimpulkan 4 sifat pokok dari seorang pemimpin, yaitu benar, jujur, padai retorika, dan cerdas. Benar, maksudnya adalah pemimpin ini mempertahankan sebuah kebenaran. Ia berjalan di jalan kebenaran, bukan memimpin pasukan (sebuah organisasi) untuk keperluan jahat.
Yang ke dua, jujur. Digambarkan dalam film Red Cliff seorang prajurit tangguh dan pemberani hampir saja punya kesempatan untuk menebas kepala Perdana menteri Cao Cao. Tapi, ia mengurungkan niatnya karena kondisinya tidak “fair”. Perdana Menteri Cao Cao pun sempat memuji Liu Bei yang sering kalah di banyak pertempuran, tetapi ia memiliki banyak prajurit hebat yang tetap setia kepadanya.
Ketiga, pandai retorika. Maksudnya adalah pandai dalam menyampaikan maksud. Memegang adab berbicara dengan orang lain, menyampaikan dengan pilihan kata yang tepat supaya maksud dapat merasuk ke hati lawan bicara. Kejadian ini digambarkan ketika Zhuge Liang, penasehat perang yang cerdik, berdiplomasi dengan pihak lain untuk membantu Liu Bei dalam menghadapi pasukan Perdana Menteri Cao Cao. Dia mampu mengikat hati pemimpin pihak lain ini, padahal bawahan dari pihak ini sudah menolak mentah-mentah tawaran Zhuge Liang.
Ke empat, cerdik. Pada scene bagian awal ketika pasukan Liu Bei harus menghadapi pasukan Perdana Menteri Cao Cao dengan jumlah yang jauh lebih banyak, Zhuge Liang menggunakan strategi yang mungkin penonton tidak akan menyangka. Hingga pasukan lawan sampai beberapa meter di depan pasukan Liu Bei, pasukan itu hanya diam dengan membawa perisai panjang dan tertata rapi. Kemudian setelah diberi aba-aba, siang itu, pasukan membolak-balikan perisai itu! Ternyata pantulan cahaya matahari siang cukup untuk menumbangkan pasukan berkuda Perdana Menteri Cao Cao yang berada di barisan depan.
Di sesi lain, Zhuge Liang mengusulkan sebuah strategi perang yang akhirnya membuat pasukan ini menang. Mau tau gimana kelanjutannya? Monggo dipun pirsani. Hehe.
Perhatikan tidak? Empat sifat yang telah disebutkan tadi merupakan emapt sifat wajib seorang Rasul! Ya, itu semua dimiliki juga oleh Nabi Muhammad SAW. Shidiq (benar), dapat dipercaya atau jujur (amanah), pandai menyampaikan (tabligh), dan cerdas (fathonah). Subhanallah! Memang itulah dia! Jika kita ingin mencari contoh atau teladan seorang pemimpin yang ideal, beliau lah orangnya.
Sebenarnya tidak hanya itu saja yang dapat kita ambil dari film ini. Terdapat pula karakter pemimpin yang sangat mementingkan rakyatnya. Tampak dalam bagian ketika Liu Bei mendapat laporan bahwa anak dan istrinya terjebak dan belum dapat melarikan diri. Liu Bei yang harus mengawasi rakyat untuk mengungsi pada saat itu memutuskan untuk diam sejenak dan kembali melakukan tugasnya membantu para pengungsi. Bayangkan! Bagaimana jika itu adalah posisi kita?
Tanyakan pula pada Shirah Nabawiyah. Bagaimana Sang Nabi mencintai umatnya? Teringat kisah sakaratul maut beliau. Di akhir hayatnya, dia bukan menyebut nama Fatimah Az Zahra, putrinya yang amat beliau sayangi, atau Aisyah, istri cerdas yang beliau cintai. Bukan pula nama sahabat-sahabat beliau yang telah menemani perjuangan dakwah bertahun-tahun dengan jiwa, raga, dan harta. Tapi kala itu, beliau hanya menggumamkan “Ummati, ummati.” Beliau begitu mengkhawatirkan bagaimana kelak keadaan umatnya. Itu lah tanda cinta terakhir dengan meninggalkan 2 warisan berharga, Al Qur’an dan Hadits.
Selain, itu ada pula kisah “berprasanga baik” yang diceritakan dalam film “Red Cliff” ini. Kisahnya pun dikutip oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya. Namun sayang, hal yang dibela oleh si pemimpin dalam cerita ini adalah “mencuri”. Namun, masih ada hikmah yang dapat kita ambil.
Lalu, bagaimana dengan Rasulullah SAW? Pernah ada sebuah keputusan yang begitu mencengangkan bagi kaum muslim beberapa tahun sebelum Fathul Makkah. Ingat Perjanjian Hudaibiyyah? Perjanjian ini sempat memecah umat muslim menjadi dua kubu karena perjanjian ini terlihat lebih menguntungkan pihak kafir Quraisy.
Aku ingat ada kisah mengenai Umar bin Khattab yang sangat kesal dengan perjanjian itu. Ia bertanya kepada Abu Bakar pada saat itu.
“Bukankah kita ini muslim?” kata Umar dengan wajah tidak-habis-pikirnya.
Abu Bakar menjawab dengan tenang, “Ya, memang begitu.”
Kemudian Umar bertanya lagi, “Bukankah dia (menunjuk Nabi Muhammad SAW) adalah Rasulullah?”
Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang sama, “Ya, memang begitu.”
Kemudian Umar yang belum puas bertanya lagi langsung kepada Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Beliau pun hanya menjawab dengan jawaban yang sama untuk kedua pertanyaannya, “Ya, memang begitu.”
Sementara saat itu, Nabi Muhammad sebagi pemimpin umat musim begitu optimis dengan perjanjian itu. Lanjut cerita, perjanjian ini lah yang melarbelakangi terjadinya Fathul Makkah. Mau tau gimana kok bisa? Katanya sih disuruh baca Shirah Nabawiyah aja. Hehehe.
Begitulah tentang sifat kepemimpinan. Haduuuh, keren super deh. >,<
Saat dunia penuh masalah, manusia saling bertanya solusinya. Saat seseorang datang membawa solusi dari Sang Pencipta, mereka meragu. Sudakkah hati mereka terkunci rapat? Semoga menjadi jalan pahala bagi mukmin.
Posted by: ramadhanisa on: November 11, 2011
Siang ini seperti biasa ada tugas dinas ke SMAku tercinta
Setelah jalan-jalan bersama 7 adekku tersayang ke Es Cool di daerah Patangpuluhan aku balik lagi ke sekolah. Makan siang bareng Shinta di kantin, ditemenin juga sama Nisul habis itu. Akhirnya balik sendiri ke Masjid Ash-Shidiq di ruang akhwat. Duduk sendiri menggalau (haha). Nggak nding, niat mau ngerjain tugas, tapi malah buka web putih-biru (haduh).
Udah hampir waktu Ashar, masih juga masjidku ini nggak sepi (hehe). Lanjut, dengerin murotal sambil diajak ngobrol kanan-kiri (hihi). Terus pas udah mepet mau adzan Ashar, tiba-tiba aku didatengin seorang adek kelas X yang ceritanya mau wawancara.
“Mbak, minta komentarnya tentang ukhuwah dong,” katanya to the point banget.
Jleb.
“Gyaaa, aduh, dek, salah deh rasanya kamu tanya ke aku. Hehe,” jawabku sekenanya yang emang nggak ngrasa pantes untuk ditanyai tentang ukhuwah.
Gimana nggak coba? Beberapa waktu ini di tiga tempat hatiku cukup pusing disibukkan dengan masalah seputar kata ini: ukhuwah. Di satu tempat berisi 5 orang aku bermasalah dengan dua orang yang lain, sementara dua yang lain lagi tampak pekewuh dengan aku dan dua yang lain (haduh, nggak jelas banget nih).
Di tempat ke dua aku nggak srek dengan dua anggota yang menjalankan sebuah planning, yang satu jalan sendiri, yang satu lagi sibuk dengan urusannya. Sebenarnya di tempat ini masih ada dua anggota lain, tapi mereka pasif. Duh duh, bingung bener aku. Berasa galau -_-“
Well, di tempat ke tiga, tempat di mana harusnya aku benar—benar merasa nyaman di dalamnya, aku justru merasa sangat tidak nyaman. Setiap kali aku datang ke dalam, wajahku murung. Sampai-sampai seorang teman pernah bertanya padaku: Nis, kok aku dah jarang liat anti senyum, ya?
Huwaaaaaa!!! Sungguh, aku belum bisa merasakan satu kata ajaib itu: ukhuwah!
Nah, aku jadi teringat sebuah dorama yang aku tonton beberapa waktu lalu: Tantei Gakuen Q. Cerita tentang 5 orang detektif muda yang sedang bersaing dalam satu kelas (kelas Q atau Qualified Class) untuk menjadi penerus dari “Dan Detective School”. Well, mereka memang dibuat dalam kondisi bersaing, namun untuk memecahkan kasus-kasus yang ada di hadapan mereka mau nggak mau mereka harus mengkombinasikan kemampuan masing-masing. Oya, dari kelima anggota ini ada satu anak yang berisik banget dan suka sekali mengingatkan teman-temannya bahwa mereka adalah “nakama” (baca: teman seperjuangan). Namanya Kyuu. Tapi tentunya buat keempat anggota lain kata ini benar-benar bullshit. Gimana nggak? Mereka kan rival gitu loh.
Tapi seiring berjalannya waktu dengan keberisikan si Kyuu ini juga, akhirnya mereka pelan-pelan sadar bahwa masing-masing dari mereka saling membutuhkan yang lain. Untuk mengakui status sebagai “nakama” ini pun mereka harus menahan ego masing-masing untuk saling memahami dan saling menerima. Hingga akhirnya mereka saling menginsyafi bahwa itulah mereka: nakama.
Di cerita ini juga dikisahkan bagaimana sebuah persahabatan di masa lalu pernah hancur dan menimbulkan kekacauan di masa berikutnya. Dan pada masa itu Kyuu dan Ryuu (salah satu dari anggota kelas Q) dihadapkan pada masalah sama: kepercayaan. Kata ajaib yang lain ini merupakan sebuah penguat sebuah persahabatan ketika ia ada di ujung tanduk dan menuju permusuhan. Kata inilah yang menjadi kunci terakhir dalam kisah ini hingga akhirnya menyelamatkan banyak hal.
Well, that’s about a fiction, right? Kini kita balik ke dunia nyata. Cerita tadi hanya menggambarkan sedikit dari permasalahn persahabatan dan persaudaraan yang ada di muka bumi ini. Namun, sebagai umat muslim tentunya yang dinamakan dengan ukhuwah bukan lah hal yang sepele.
Ukhuwah Islamiyah adalah tali yang tidak ada bandingannya di manapun.
… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka… (Al Anfaal [8]: 63)
Dari firman-Nya ini jelaslah betapa istimewa ukhuwah yang ada di antara umat muslim. Inilah PR bagi kita umat muslim untuk bisa merendahkan ego dan memupuk rasa saling percaya itu. So, itu juga pe-er pribadiku loh ya
Posted by: ramadhanisa on: April 13, 2011
Seperti malam sebelumnya, malam itu kelangkahkan kaki menuju masjid yang kiranya hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah. Sesampainya di sana datangku disambut canda tawa anak-anak itu. Hmm, sebagian anak yang masih mau melaksanakan shalat isya di masjid. Subhanallah, anak-anak ini ^^
Hmm, eh tiba-tiba nyamperin aku, nyium tangan sambil tanya, “Mbak, kok tadi ga ngajar TPA e?”.
DEG.
Mendengar kata-kata itu rasanya begitu malu aku. Sudah berapa lama ya nggak ngajar TPA? Wah, dua bulan mungkin lebih. Alasannya? Hehe, maaf, Mbak, sibuk ini itu. Dah gitu pulang sore lagi. Haisss, padahal ga sore-sore amat. Tapi alasan berikutnya: cpek kuliah dari pagi. Kalo pas libur bilangnya ada acara ini itu yang harus diselesaikan. Acaranya kadang sampai sore lagi.
Duh, duh! Padahal ketika aku melihat wajah anak-anak itu, mencoba merasakan keceriaan mereka, tingkah mereka yang kadang-kadang aneh dan bikin sebel, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri: Siapa yang nantinya akan menjaga dan mendidik mereka supaya tak terbawa arus degradasi moral yang melanda negeriku? Tersentil hati ini mengingat tanya itu.
Lalu sore ini, kusengajakan motorku melaju dari kampus hingga ke bangunan baru itu. Mereka di sana, haus akan ilmu, kawan! Berlari anak itu menyambutku, “Mbak, ngaji!” Subhanallah, apa ya yang telah aku lakukan selama ini?
Aku pun terlarut sore itu bersama mereka. berusaha lagi mendalami mereka, anak-anak itu. Kemudian salah satu anak mengatakan padaku, “Mbak, ada surat loh di tasmu!” Anak-anak itu tertawa kecil seperti menyembunyikan sesuatu. Aku hanya geli terhibur tingkahnya.
beberpa saat kemudian kubaca kertas kecil berwarna pink dengan gambar barbie yang biasa disukai anak-anak perempuan seusia mereka. Aku tertegun membaca isinya.
mbak Anis kamu sangat lucu dan imut seperti gambar yang di kanan dan kiri (gambar yang di kertas pink: Barbie hehe) sayang kamu tidak perah (pernah) berangkat te pe A
Subhanallah, ini kah ungkapan hati seorang anak kecil yang lugu? Padahal biasanya anak itu menjailiku dengan tingkah anak seusianya. Tapi tulisannya itu benar-benar menyentil hatiku kali ini. Cukup malu aku dibuatnya. (blush)