Coretan Karya

Mimpi Kejayaan

Posted by: ramadhanisa on: January 25, 2012

23 Januari 2012

Pagi yang masih sama. Melangkah perlahan sehabis makhluk tak hidup bernapas. Dari bangunan hijau yang sejuk di kala terang itu aku kembali ke ruangan penuh kursi dan meja tertata. Di sana sudah menanti satu dua tiga gadis berjilbab yang sudah tampak segar tapi masih galau. Hehe. Mikirin acara hari ini pasti. Sementara beberapa yang lain masih nongkrong di lantai dua bangunan hijau.

Disambut rencana apa-yang-akan-kita-lakukan. Mencari-cari video motivasi di Youtube, berakhir di harddisk dan ternyata masih tersimpan cantik di sana. Kado cinta dari sahabat lama, kisah mengagumkan di daerah Bandung.

Tibalah saatnya. Karena tidak ada ikhwan alumni yang tersisa akhirnya seniorku yang super militan itulah yang maju ke depan. Dengan wajahnya yang selalu sumringah menyambut anak-anak baru gede yang luar biasa itu. Lalu kumainkan sebuah video (yang tadi dicariin) yang kami harap bisa membuka mata hati anak-anak itu.

Sebuah SMP negeri di Bandung. Meski status sekolah negeri, tapi agaknya sekolah ini tak mau ketinggalan untuk membina keislaman siswanya. Setiap pagi bukan sekedar apel pagi di sekolah negeri lain, tetapi membaca shalawat nabi bersama! Sampai ada siswi yang tampak meneteskan mata. Padahal banyak dari mereka yang tidak berjilbab pada waktu itu.

Keheningan itu kemudian berubah menjadi hiruk pikuk dalam gedung sekolah yang tidak begitu mewah tapi anggun dengan keistiqomahannya itu. Semangat belajar dan mengajar dari siswa dan guru. Di sela jam-jam pelajaran itu, kemudian berganti lagi dengan suasana asyik mencari air wudhu untuk dhuha bersama satu sekolah! Bayangkan! Ini sekolah negeri.

Siang hari pun begitu, siswa-siswi itu mencari-cari kesejukan air wudhu bahkan hingga meminta air dari warga. Kemudian mereka sholat dzuhur berjamaah. Tak tanggung-tanggung, bahkan sajadah digelar di lorong-lorong gedung sekolah. Lalu, dengan dipimpin seorang siswa mereka berdoa bersama, dalam keheningan, dengan rintikan air mata, serta dengan lugu dan polosnya siwa SMP. Subhanallah!

Seniorku mengembalikan lagi pada anak-anak hebat di hadapan kami. Apa mimpi kalian untuk sekolah tercinta ini?

Kemudian muncul lah mimpi besar dari mulut mereka meski berbalut tawa dan canda muda mereka. Mimpi besar. Harapan nyata. Sebuah kemenangan!

Dari semua mimpi itu, aku melihat mimpi yang mungkin akan ditertawakan masyarakat dunia masa kini secara umum: mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau. Aku tertegun, lalu tersenyum. Semoga dari tempat inilah lahir Shalahudin Al Ayyubi yang lain, Muhammad Al Fatih yang menjadi pembebas bagi kejahiliyahan modern, pemimpin layaknya Rasulullah, minimal seperti Umar bin Khattab, serta pahlawan besar lain yang bahkan tak pernah terbayangkan di benak siapa pun. Aamiin.

Adakah kau lupa
Kita pernah berjaya
Adakah kau lupa
Kita pernah berkuasa

Memayungi dua pertiga dunia
Menrentas benua melayar samudera
Keimanan juga ketaqwaan
Rahsia mereka capai kejayaan

… (Alarm Me – Adakah kau lupa)

Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini adalah kenyataan hari esok” (Hasan Al-Banna)

Kepemimpinan

Posted by: ramadhanisa on: January 25, 2012

23 Januari 2012

Kuhirup udara pagi ini. Ah bukan nding, malam ke-3. Udara yang jauh lebih segar daripada sejuknya pagi. Melangkah ke bangunan hijau di pojok kompleks sekolah. Keindahan yang sungguh sayang dilewatkan.

Ya, malam ini kembali FSAK diminta teman-teman Kharisma untuk mendampingi mabit mereka. Di luar hal teknis yang jadi kendala, aku tetap bersyukur selama 2 hari ini diizinkan membersamai mereka.

Kalo boleh aku bilang, mereka bisa saja menjadi orang luar biasa kelak. Tentunya, tetap dengan keteguhan iman, memenuhi syari’at Islam, dan potensi mereka masing-masing.

Kebetulan FSAK diminta mengisi 3 sesi dalam seminar dan mabit bertema “kepemimpinan” malam itu. Pertama, dibantu oleh Besar Anggara Palgunadi (2011) dengan menampilkan video tetang Shalahudin Al Ayyubi yang mengisahkan seorang panglima perang yang luar biasa hebat yang telah berhasil menaklukan pasukan musuh pada Perang Salib. Kemudian dilanjutkan trainer (trainer beneran bukan dari FSAK hehe) yaitu Pak Arif Jadmiko. Seminar berjalan seru hingga ashar kemudian masih dilanjut lagi setelah istirahat sholat ashar.

Malam harinya, setelah maghrib, aku, Fal, dan Mbak Sa’a yang masih doyan nongkrong di masjid dengan aktivitas masing-masing sambil menunggu hujan reda, tiba-tiba dengan so sweetnya adek-adek KHR 26 (Kharisma 26) mengirim sms untuk makan bareng di ruang Multimedia. Hihihi, akhirnya karena saking so sweetnya, kami bertiga langsung capcus ke ruang MM.

Hoo, ternyata makannya prasmanan gitu. Asik banget bisa merasakan kebersamaan dengan anak-anak ini. Udah gokil, geje, tapi tetep istiqomah buat dakwah. Subhanallah, mereka keren.

Setelah itu kita sholat isya berjamaah di masjid Ash-Shidiq (bener hehe). Kemudian inilah yang sudah dari kemarin dipersiakan oleh teman-teman FSAK, bedah film “Red Cliff”. Sebuah film dari China yang  menceritakan tentang Pertempuran Chibi di akhir Dinasti Han. Di film ini tampak kepemimpinan yang luar biasa dari beberapa karakter utamanya. Bahkan kepemimpinan dalam film ini juga dituliskan oleh Salim A. Fillah dalam bukunya yang ke-7, “Dalam Dekapan Ukhuwah”.

Singkat cerita, bedah film yang dibawakan oleh Mas Imam Santoso ini menyimpulkan 4 sifat pokok dari seorang pemimpin, yaitu benar, jujur, padai retorika, dan cerdas. Benar, maksudnya adalah pemimpin ini mempertahankan sebuah kebenaran. Ia berjalan di jalan kebenaran, bukan memimpin pasukan (sebuah organisasi) untuk keperluan jahat.

Yang ke dua, jujur. Digambarkan dalam film Red Cliff seorang prajurit tangguh dan pemberani hampir saja punya kesempatan untuk menebas kepala Perdana menteri Cao Cao. Tapi, ia mengurungkan niatnya karena kondisinya tidak “fair”. Perdana Menteri Cao Cao pun sempat memuji Liu Bei yang sering kalah di banyak pertempuran, tetapi ia memiliki banyak prajurit hebat yang tetap setia kepadanya.

Ketiga, pandai retorika. Maksudnya adalah pandai dalam menyampaikan maksud. Memegang adab berbicara dengan orang lain, menyampaikan dengan pilihan kata yang tepat supaya maksud dapat merasuk ke hati lawan bicara. Kejadian ini digambarkan ketika Zhuge Liang, penasehat perang yang cerdik, berdiplomasi dengan pihak lain untuk membantu Liu Bei dalam menghadapi pasukan Perdana Menteri Cao Cao. Dia mampu mengikat hati pemimpin pihak lain ini, padahal bawahan dari pihak ini sudah menolak mentah-mentah tawaran Zhuge Liang.

Ke empat, cerdik. Pada scene bagian awal ketika pasukan Liu Bei harus menghadapi pasukan Perdana Menteri Cao Cao dengan jumlah yang jauh lebih banyak, Zhuge Liang menggunakan strategi yang mungkin penonton tidak akan menyangka. Hingga pasukan lawan sampai beberapa meter di depan pasukan Liu Bei, pasukan itu hanya diam dengan membawa perisai panjang dan tertata rapi. Kemudian setelah diberi aba-aba, siang itu, pasukan membolak-balikan perisai itu! Ternyata pantulan cahaya matahari siang cukup untuk menumbangkan pasukan berkuda Perdana Menteri Cao Cao yang berada di barisan depan.

Di sesi lain, Zhuge Liang mengusulkan sebuah strategi perang yang akhirnya membuat pasukan ini menang. Mau tau gimana kelanjutannya? Monggo dipun pirsani. Hehe.

Perhatikan tidak? Empat sifat yang telah disebutkan tadi merupakan emapt sifat wajib seorang Rasul! Ya, itu semua dimiliki juga oleh Nabi Muhammad SAW.  Shidiq (benar), dapat dipercaya atau jujur (amanah), pandai menyampaikan (tabligh), dan cerdas (fathonah). Subhanallah! Memang itulah dia! Jika kita ingin mencari contoh atau teladan seorang pemimpin yang ideal, beliau lah orangnya.

Sebenarnya tidak hanya itu saja yang dapat kita ambil dari film ini. Terdapat pula karakter pemimpin yang sangat mementingkan rakyatnya. Tampak dalam bagian ketika Liu Bei mendapat laporan bahwa anak dan istrinya terjebak dan belum dapat melarikan diri. Liu Bei yang harus mengawasi rakyat untuk mengungsi pada saat itu memutuskan untuk diam sejenak dan kembali melakukan tugasnya membantu para pengungsi. Bayangkan! Bagaimana jika itu adalah posisi kita?

Tanyakan pula pada Shirah Nabawiyah. Bagaimana Sang Nabi mencintai umatnya? Teringat kisah sakaratul maut beliau. Di akhir hayatnya, dia bukan menyebut nama Fatimah Az Zahra, putrinya yang amat beliau sayangi, atau Aisyah, istri cerdas yang beliau cintai. Bukan pula nama sahabat-sahabat beliau yang telah menemani perjuangan dakwah bertahun-tahun dengan jiwa, raga, dan harta. Tapi kala itu, beliau hanya menggumamkan “Ummati, ummati.” Beliau begitu mengkhawatirkan bagaimana kelak keadaan umatnya. Itu lah tanda cinta terakhir dengan meninggalkan 2 warisan berharga, Al Qur’an dan Hadits.

Selain, itu ada pula kisah “berprasanga baik” yang diceritakan dalam film “Red Cliff” ini. Kisahnya pun dikutip oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya. Namun sayang, hal yang dibela oleh si pemimpin dalam cerita ini adalah “mencuri”. Namun, masih ada hikmah yang dapat kita ambil.

Lalu, bagaimana dengan Rasulullah SAW? Pernah ada sebuah keputusan yang begitu mencengangkan bagi kaum muslim beberapa tahun sebelum Fathul Makkah. Ingat Perjanjian Hudaibiyyah? Perjanjian ini sempat memecah umat muslim menjadi dua kubu karena perjanjian ini terlihat lebih menguntungkan pihak kafir Quraisy.

Aku ingat ada kisah mengenai Umar bin Khattab yang sangat kesal dengan perjanjian itu. Ia bertanya kepada Abu Bakar pada saat itu.

“Bukankah kita ini muslim?” kata Umar dengan wajah tidak-habis-pikirnya.

Abu Bakar menjawab dengan tenang, “Ya, memang begitu.”

Kemudian Umar bertanya lagi, “Bukankah dia (menunjuk Nabi Muhammad SAW) adalah Rasulullah?”

Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang sama, “Ya, memang begitu.”

Kemudian Umar yang belum puas bertanya lagi langsung kepada Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. Beliau pun hanya menjawab dengan jawaban yang sama untuk kedua pertanyaannya, “Ya, memang begitu.”

Sementara saat itu, Nabi Muhammad sebagi pemimpin umat musim begitu optimis dengan perjanjian itu. Lanjut cerita, perjanjian ini lah yang melarbelakangi terjadinya Fathul Makkah. Mau tau gimana kok bisa? Katanya sih disuruh baca Shirah Nabawiyah aja. Hehehe.

Begitulah tentang sifat kepemimpinan.  Haduuuh, keren super deh.  >,<

Saat dunia penuh masalah, manusia saling bertanya solusinya. Saat seseorang datang membawa solusi dari Sang Pencipta, mereka meragu. Sudakkah hati mereka terkunci rapat? Semoga menjadi jalan pahala bagi mukmin.

Karya Pemuda Pilihan (Kekaguman pada PKM)

Posted by: ramadhanisa on: January 21, 2012

Melihat judul-judul yang lolos PKM tahun ini sungguh terkagum. Ternyata memang benar bahwa orang Indonesia itu KREATIF! Istimewanya lagi pelaku kreativitas itu adalah PEMUDA! Tak ada kata lain selain kekaguman pada Allah. Mereka makhluk yang keren dengan potensi luar biasa.

Aku membayangkan jika semua itu benar-benar bisa terakomodasi dengan baik. Kewirausahaan yang berjalan dengan keuntungan tinggi lalu menyerap tenaga masyarakat sekitar. Pengabdian masyarakat yang dapat membangun desa-desa tertinggal dan masyarakat pinggiran untuk bangun menghadapi dunia. Pengembangan teknologi yang dikembangkan seperti halnya mobil Esemka yang katanya akan dijadikan industri asli Indonesia dan tentu teknologi yang kelak mampu memajukan bangsa.  Karsacipta yang mampu menghasilkan prototype karya yang benar-benar dapat dipertimbangkan untuk diimplementasikan di negeri tercinta. Tentunya juga hasil penelitian yang dipublikasikan dan dipatenkan bagi Indonesia.

Betapa bermaknanya KARYA dan PERJUANGAN!

Sungguh, ketika aku membaca judul-judul itu hatiku bergetar. Ini nyata. Siapa bilang Indonesia adalah sekumpulan orang bodoh? Siapa bilang Indonesia tak dapat bersaing di kancah global? Siapa bilang kejayaan itu jauh di masa lalu? Ada, insya Allah harapan untuk menyambut kejayaan negeri itu ada!

Baiklah. Sekarang pe-er dari para pemuda terpilih ini adalah MEMBERIKAN DAN MELAKUKAN YANG TERBAIK. Perjuangan ini tidak berhenti pada rasa syukur diterimanya judul proposal dan mengukir prestasi serta mendapat prestis. Ujian terberat justru datang pada saat kesenangan itu datang. Subhanallah!

Tentunya kita tahu bahwa uang negara itu uang rakyat. Uang negara diplot untuk bidang pendidikan termasuk kepada dikti, termasuk pula dalam PKM ini. So, semoga sifat jelek para koruptor ga masuk ke aliran darah para pemuda pilihan Ya Rabb. Karena pemuda-pemuda ini lah yang bisa saja kelak memberikan perubahan positif yang besar pada bangsa ini. Aku ingin, aku ingin, aku ingin pemuda inilah yang kelak tampil di garda depan bangsa dalam menghadapi penjajahan akidah dan akhlak bangsa. Tentunya, para pemuda pilihan ini juga terpilih (semoga) karena akhlaknya yang mulia. Aamiin Ya rabb. :)

Kalau pembaca tulisan ini adalah temanku, yang notabene tahu kalau proposalku ga lolos, jangan panik, hehe. Tenang, ini bukan ungkapan sakit hati karena itu. Aku sendiri merasa ragu apakah aku mampu melaksanakan tanggung jawab “lolos” itu dengan baik atau tidak. Oleh karena itu, kini aku berjuang lagi dengan PKM GT. Apapun hasilnya nanti. Semoga Allah membelajarkan padaku nikmatnya berjuang dan Dia menilai perjuangan ini. Dengan masih berharap aku menjadi pilihan Allah untuk memajukan bangsa. Aamiin Ya Rabb. :)

Semangat Berkontribusi! Lillah! Berkarya untuk bangsa.

Niat Menulis

Posted by: ramadhanisa on: November 11, 2011

Sekedar berbagi tentang niat menulis. :)

Beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah ajang kompetisi menulis yang dihadiri oleh lebih sepuluh universitas di Indonesia. Subhanallah,that’s so awesome! Apalagi wadah dari acara ini bertemakan “pemuda”. Ini adalah langkah keren untuk menunjukkan bahwa we’re not nothing.

Dari awal aku udah nggak gitu serius sebenarnya mengikuti ajang ini. Bahkan rencananya malah aku nggak jadi ikut. Sampe akhirnya denger kabar kalau deadlinenya diundur. So, aku beraniin diri deh ngirim abstrak dengan niat nggak bulet :P

Alhamdulillah, abstrakku LOLOS! Well, jujur ini pertama kainya aku bikin abstrak sendiri dengan dibantu satu kakak angkatanku buat nyelesain abstrak ini dalam waktu kurang lebih 24 jam. Akhirnya aku dan teman setimku pun memulai aksi melengkapi paper kita.

Tapi, masalah ada saja yang datang. Dari mulai anggota tim pada sibuk di organisasi lah, ada paper lain dengan hari presentasi sama, dan aku sendiri galau dengan amanah sekolah. Dengan terseok-seok sampai deadline pengumpulan full paper pun kami meminta izin panitia untuk mengirimkannya hari berikutnya. Bahkan sampai 2 hari berikutnya! Maklum, cuma universitas tetangga soalnya, hehe.

Jujur, kala itu aku menyelesaikan full paper dengan niatan untuk memenuhi kewajibanku yang udah minta uang ke fakultas dengan jumlah yang nggak sedikit. Paling nggak aku nggak nyia-nyiain itu kan? Yah, gimana lagi? Hati dan pikiranku nggak lagi konsen dengan isi paper itu. Apalagi dengan konsep yang dadakan dan seakan-akan seperti coba-coba saja.

Lalu, tibalah hari itu. Di hatiku sedikit ada rasa was-was. Seorang senior mau ndampingin kegiatan organisasi, jadi nggak bisa ikut presentasi. Dua yang lain harus presentasi di tempat lain juga. Jadi sedih. Kakakku itu pun mendatangiku, berbicara berdua.

“Dek, kali ini mungkin dirimulah yang terdzalimi. Nah, lain kali ketika kita akan nulis bareng tanyakanlah konsistensi dari masing-masing anggota. Bahkan jika orang itu aku, Dek, tanyailah dan minta konsistensiku dalam mengikuti kegiatan kita.”

Kurang lebih begitu beliau menyampaikan. Yah, benar juga katanya. Sempat kakakku ini juga menggembirakan hatiku dengan memberikan contoh seorang kawan dari universitas lain yang pernah kami kunjungi bersama dan dia hanya sendiri sementara anggota lain berhalangan hadir, tapi aku sendiri terkagum-kagum dengan performa dia yang luar biasa.

“Kita berkhusnudzan saja. Mungkin ini adalah cara Allah untuk menaikkan kapasitasmu di mana kamu bisa menghadapi permasalahan ini tanpa bergantung pada orang lain.”

Yah, sedikit nasihat ini sudah cukup membuatku tenang malam itu.

Hari berikutnya, hatiku cukup tenang dengan sedikit was-was. Namun, perlahan kuhilangkan was-was itu. Ditk berganti menit, menit berganti jam, hingga siang menjelang. Kedua rekanku belum juga kembali. Mana HPku juga mati lagi >_<

Akhirnya tibalah waktu kira-kira 45 menit sebelum jadwalku maju. Dan kedua rekanku itu kembali dengan wajah kusut duduk di bangku deretan belakangku. Alhamdulillah. :)

Ternyata jadwal presentasi kami diundur setelah Ashar. Aku sempatkan sholat dulu. Kemudian betapa herannya aku saat kembali ke ruang presentasi. Di sana sudah banyak peserta lain yang menunggu juga panitia, belum dimulai memang. Di depan sang operator dan moderator sedang sibuk mencari-cari data rupanya.

Atas saran temanku kudatangi mereka. Kutanyai apakah data presentasiku ada atau tidak. Dan ternyata tidak ada. Kecewa. Aku coba tenangkan hati dan pikiranku. Kuambil netbook biruku dan kucari file presentasiku. Ketemu. Namun ada dua file ternyata yang ada di flash disk ku. Ketika ditanya operator aku mantap menjawab yang mana file yang kumaksud.

And tada~

Aku keheranan ketika presentasi sudah berjalan ternyata ada slide yang tidak juga menampilkan isinya. Baru kusadar ternyata itu bukan file yang kumaksud. Ini belum diedit. Alhamdulillah, aku cukup ingat dengan isinya. Lalu kucoba menenangkan diri dan dengan semampuku tetap tersenyum dengan pemaparanku sementara temanku di belakang sedang menyelesaikan permasalahan itu.

Tidak berhenti di situ, kami pun kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan juri. Aku tahu persis ketidakmantapan dari idee ini. Dan itu lah titik lemahnya. Sayangnya, juri juga tidak tertarik untuk tidak meanyakan hal itu. So, kami Cuma bisa menjawab sebisanya.

Well, ini terjadi di depan banyak orang. Tidak hanya orang Jawa, bahkan rekan-rekan dari Sumatera dan Makasar pun hadir di situ dan memperhatikan kami. Jujur, malu jika mengingat itu. Apalagi dengan sikap moderator yang tidak mengindahkan request dariku untuk memberikan peringatan sebelum waktu presentasi habis. Mungkin khilaf, lupa. Astaghfirullah.

Yang jelas ini adalah sebuah pengalaman bagiku untuk dijadikan sebuah pelajaran bahwa: Innamal a’malu bin niyaat. Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya. Ini bukan perkara main-main. Aku sudah merasakannya.

Jadi teringat yang dikutip dari kata-kata seorang ahli bahasa oleh teman-temanku dalam presentasi ketika perkuliahan Keterampilan Berbahasa dan Sastra Indonesia untuk Anak SD kemarin.

Menulis bukan untuk memberi kesan, tapi menulis untuk menuangkan gagasan.

Fiksi Lagi

Posted by: ramadhanisa on: November 11, 2011

Kalau dulu biasanya suka membaca fiksi-fiksi geje yang mengisahkan para artis asal Korea – Jepang dan ceritanya bisa bikin aku ngakak, sekarang tiba-tiba pengen lagi menikmati fiksi. Hmm, mungkin lebih tepatnya nulis lagi di bidang fiksi. Tapi aneh kan, masa mau nulis tapi malah ngga doyan baca :P

Jadi enaknya balik lagi ke FanFic dulu aja kali ya? Hehe.

By the way, aku baru ngikutin pelatihan kepenulisan cerpen nih di kampus. Pematerinya ajib bo’! Subhanallah! Mereka membuatku benar-benar bersemangat untuk jadi cerpenis. :)

Ada ilmu yang aku dapet beberapa waktu lalu tentang kepenulisan cerpen.

  1. Pada intinya cerpen itu adalah suatu fiksi dengan kepadatan ruang, waktu dan konflik.
  2. Di dalam cerpen unsur paling pentingnya adalah: tokoh dan konflik.
  3. Teknik penulisan cerpen: Pemadatan, Pemusatan, dan Pendalaman.
  4. Aspek yang perlu diperhatikan dalam menulis latar cerpen: Sosiologi (berkaitan dengan budaya dalam cerpen), Psikologi, dan Fisiologi.
  5. “Jangan menulis di luar dirimu. Kita ada di ruang apa yang kita ketahui.” (Imam Al Ghozali)
  6. Menulis: kegiatan seseorang dalam menuangkan gagasan/pikiran lewat bahasa yang muncul sebagai lambang/tanda yang harus dapat dipahami oleh pembaca.
  7. Tahap menulis: Persiapan (ide muncul di tahap ini), Inkubasi (pengendapan ide, mematangkan ide itu dengan menggunakan daya imajinasi), Iluminasi (menuliskan ide, perlu diperhatikan tentang kebahasaan), Verifikasi (tahap penyempurnaan berupa editing).
  8. Kalau karya udah selesai jangan sungkan buat dibaca bahkan sampe 20 kali lebih.
Well, segitu dulu deh ceritanya. Insya Allah masih ada cerita selanjutnya ^_^
*thanks to HIMA PGSD Kampus 3 FIP UNY, Mbak Evi dan Mas Heri

Tentang Ukhuwah (Part I)

Posted by: ramadhanisa on: November 11, 2011

Siang ini seperti biasa ada tugas dinas ke SMAku tercinta :) Setelah jalan-jalan bersama 7 adekku tersayang ke Es Cool di daerah Patangpuluhan aku balik lagi ke sekolah. Makan siang bareng Shinta di kantin, ditemenin juga sama Nisul habis itu. Akhirnya balik sendiri ke Masjid Ash-Shidiq di ruang akhwat. Duduk sendiri menggalau (haha). Nggak nding, niat mau ngerjain tugas, tapi malah buka web putih-biru (haduh).

Udah hampir waktu Ashar, masih juga masjidku ini nggak sepi (hehe). Lanjut, dengerin murotal sambil diajak ngobrol kanan-kiri (hihi). Terus pas udah mepet mau adzan Ashar, tiba-tiba aku didatengin seorang adek kelas X yang ceritanya mau wawancara.

“Mbak, minta komentarnya tentang ukhuwah dong,” katanya to the point banget.

Jleb.

“Gyaaa, aduh, dek, salah deh rasanya kamu tanya ke aku. Hehe,” jawabku sekenanya yang emang nggak ngrasa pantes untuk ditanyai tentang ukhuwah.

Gimana nggak coba? Beberapa waktu ini di tiga tempat hatiku cukup pusing disibukkan dengan masalah seputar kata ini: ukhuwah. Di satu tempat berisi 5 orang aku bermasalah dengan dua orang yang lain, sementara dua yang lain lagi tampak pekewuh dengan aku dan dua yang lain (haduh, nggak jelas banget nih).

Di tempat ke dua aku nggak srek dengan dua anggota yang menjalankan sebuah planning, yang satu jalan sendiri, yang satu lagi sibuk dengan urusannya. Sebenarnya di tempat ini masih ada dua anggota lain, tapi mereka pasif. Duh duh, bingung bener aku. Berasa galau -_-“

Well, di tempat ke tiga, tempat di mana harusnya aku benar—benar merasa nyaman di dalamnya, aku justru merasa sangat tidak nyaman. Setiap kali aku datang ke dalam, wajahku murung. Sampai-sampai seorang teman pernah bertanya padaku: Nis, kok aku dah jarang liat anti senyum, ya?

Huwaaaaaa!!! Sungguh, aku belum bisa merasakan satu kata ajaib itu: ukhuwah!

Nah, aku jadi teringat sebuah dorama yang aku tonton beberapa waktu lalu: Tantei Gakuen Q. Cerita tentang 5 orang detektif muda yang sedang bersaing dalam satu kelas (kelas Q atau Qualified Class) untuk menjadi penerus dari “Dan Detective School”. Well, mereka memang dibuat dalam kondisi bersaing, namun untuk memecahkan kasus-kasus yang ada di hadapan mereka mau nggak mau mereka harus mengkombinasikan kemampuan masing-masing. Oya, dari kelima anggota ini ada satu anak yang berisik banget dan suka sekali mengingatkan teman-temannya bahwa mereka adalah “nakama” (baca: teman seperjuangan). Namanya Kyuu.  Tapi tentunya buat keempat anggota lain kata ini benar-benar bullshit. Gimana nggak? Mereka kan rival gitu loh.

Tapi seiring berjalannya waktu dengan keberisikan si Kyuu ini juga, akhirnya mereka pelan-pelan sadar bahwa masing-masing dari mereka saling membutuhkan yang lain. Untuk mengakui status sebagai “nakama” ini pun mereka harus menahan ego masing-masing untuk saling memahami dan saling menerima. Hingga akhirnya mereka saling menginsyafi bahwa itulah mereka: nakama.

Di cerita ini juga dikisahkan bagaimana sebuah persahabatan di masa lalu pernah hancur dan menimbulkan kekacauan di masa berikutnya. Dan pada masa itu Kyuu dan Ryuu (salah satu dari anggota kelas Q) dihadapkan pada masalah sama: kepercayaan. Kata ajaib yang lain ini merupakan sebuah penguat sebuah persahabatan ketika ia ada di ujung tanduk dan menuju permusuhan. Kata inilah yang menjadi kunci terakhir dalam kisah ini hingga akhirnya menyelamatkan banyak hal.

Well, that’s about a fiction, right? Kini kita balik ke dunia nyata. Cerita tadi hanya menggambarkan sedikit dari permasalahn persahabatan dan persaudaraan yang ada di muka  bumi ini. Namun, sebagai umat muslim tentunya yang dinamakan dengan ukhuwah bukan lah hal yang sepele.

Ukhuwah Islamiyah adalah tali yang tidak ada bandingannya di manapun.

… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka… (Al Anfaal [8]: 63)

 

Dari firman-Nya ini jelaslah betapa istimewa ukhuwah yang ada di antara umat muslim. Inilah PR bagi kita umat muslim untuk bisa merendahkan ego dan memupuk rasa saling percaya itu. So, itu juga pe-er pribadiku loh ya :P

Love Letter

Posted by: ramadhanisa on: April 13, 2011

Seperti malam sebelumnya, malam itu kelangkahkan kaki menuju masjid yang kiranya hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah.  Sesampainya di sana datangku disambut canda tawa anak-anak itu.  Hmm, sebagian anak yang masih mau melaksanakan shalat isya di masjid.  Subhanallah, anak-anak ini ^^

Hmm, eh tiba-tiba nyamperin aku, nyium tangan sambil tanya, “Mbak, kok tadi ga ngajar TPA e?”.

DEG.

Mendengar kata-kata itu rasanya begitu malu aku.  Sudah berapa lama ya nggak ngajar TPA?  Wah, dua bulan mungkin lebih.  Alasannya?  Hehe, maaf, Mbak, sibuk ini itu.  Dah gitu pulang sore lagi.  Haisss, padahal ga sore-sore amat.  Tapi alasan berikutnya: cpek kuliah dari pagi.  Kalo pas libur bilangnya ada acara ini itu yang harus diselesaikan.  Acaranya kadang sampai sore lagi.

Duh, duh!  Padahal ketika aku melihat wajah anak-anak itu, mencoba merasakan keceriaan mereka, tingkah mereka yang kadang-kadang aneh dan bikin sebel, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri: Siapa yang nantinya akan menjaga dan mendidik mereka supaya tak terbawa arus degradasi moral yang melanda negeriku?  Tersentil hati ini mengingat tanya itu.

Lalu sore ini, kusengajakan motorku melaju dari kampus hingga ke bangunan baru itu.  Mereka di sana, haus akan ilmu, kawan!  Berlari anak itu menyambutku, “Mbak, ngaji!”  Subhanallah, apa ya yang telah aku lakukan selama ini?

Aku pun terlarut sore itu bersama mereka.  berusaha lagi mendalami mereka, anak-anak itu.  Kemudian salah satu anak mengatakan padaku, “Mbak, ada surat loh di tasmu!”  Anak-anak itu tertawa kecil seperti menyembunyikan sesuatu.  Aku hanya geli terhibur tingkahnya.

beberpa saat kemudian kubaca kertas kecil berwarna pink dengan gambar barbie yang biasa disukai anak-anak perempuan seusia mereka.  Aku tertegun membaca isinya.

mbak Anis kamu sangat lucu dan imut seperti gambar yang di kanan dan kiri (gambar yang di kertas pink: Barbie hehe) sayang kamu tidak perah (pernah) berangkat te pe A

Subhanallah, ini kah ungkapan hati seorang anak kecil yang lugu?  Padahal biasanya anak itu menjailiku dengan tingkah anak seusianya.  Tapi tulisannya itu benar-benar menyentil hatiku kali ini.  Cukup malu aku dibuatnya. (blush)

Semangat Pagi, Dunia!

Posted by: ramadhanisa on: March 29, 2011

Subhanallah, terinspirasi dengan sebuah acara bedah buku supaya saya menulis. :)

Setiap jam mungkin sebenarnya banyak sekali ide-ide brilian yang muncul dalam setiap pikiran kita.  Tapi saking malesnya, akhirnya ide-ide itu menguap begitu saja gara-gara dicuekin oleh si pemilik ide. Nah, supaya ide itu ga nelangsa terbang ke angkasa sendirian dan dingin, mari kita tulis!  Kalau Ali bin Abi tahib ra. bilang: “Ikatlah dengan tulisan!”.

Scripta manent, verba volant.  Artinya kurang lebih: yang tertulis akan terus abadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.  Demikianlah yang ada dalam ungkapan Bahasa Prancis tersebut.  Ketika kita mau menulis maka nama kita akan selalu terkenang.  Tidak, tidak hanya nama kita, tetapi juga apa yang kita tuliskan.  Seperti ide-ide cemerlang masa muda kita.

Di sini pun insya Allah akan kutuliskan semua unek-unek yang ada di kepalaku.  Dan tentunya: MENULIS UNTUK BANGSA! Yak, daripada koar-koar ga jelas atau ngomongin anggota dewan di belakang, mending ungkapkan opini kita yang brilian lewat tulisan.  Agar opini dan ide itu terpatri dengan jelas dan memberi manfaat bagi semua ;)

So, let’s get started! ^_^

tentang nisa ^_^

Calon Guru Besar Peradaban

Selamat Datang, Kawan!

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Boleh loh ngasih kritik dan saran. Hehe... Selamat menikmati! ^^

Hari ini…

May 2012
S M T W T F S
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.